Perbedaan Putusan Sela dan Putusan Akhir

Menurut Pasal 185 ayat (1) HIR, terdapat 2 (dua) jenis Putusan Hakim jika dilihat dari waktu penjatuhannya, yaitu:

  1. Putusan Akhir (eind vonnis)
    Putusan akhir adalah suatu putusan yang bertujuan mengakhiri dan menyelesaikan suatu sengketa atau perkara dalam suatu tingkat peradilan tertentu (pengadilan tingkat pertama, pengadilan tinggi dan Mahkamah Agung).
  2. Putusan Sela (tussen vonnis)
    Putusan Sela adalah putusan yang dijatuhkan sebelum putusan akhir yang diadakan dengan tujuan untuk memungkinkan atau mempermudah kelanjutan pemeriksaan perkara.

Jika ditelaah lebih jauh dari berbagai sisi, maka ada perbedaan mendasar dari kedua jenis putusan ini. Dan kita harus mampu membedakannya dengan baik karena hal ini berpengaruh terhadap pemahaman dan penguasaan hukum acara perdata kita.

Perbedaan Putusan Sela dan Putusan Akhir
  1. Putusan Akhir dapat berdiri sendiri, Sedangkan sela tidak.
    Putusan sela selalu dijatuhkan sebelum putusan akhir dan merupakan satu kesatuan dengan putusan akhir mengenai pokok perkara. Oleh karenanya tidak mungkin ada putusan sela tanpa ada putusan akhir. Dalam hal ada eksepsi kewenangan misalnya, jika eksepsi yang diajukan oleh Tergugat ditolak oleh hakim, maka hakim bisa menggunakan putusan sela yang menyatakan menolak eksepsi dan memerintahkan kedua belah pihak untuk melanjutkan perkaranya. Tapi jika eksepsinya diterima, maka hakim harus langsung menggunakan putusan akhir yang menyatakan bahwa pengadilan pemeriksa perkara tersebut tidak berwenang dan tidak perlu membuat putusan sela terlebih dahulu.
  2. Putusan Akhir Mengakhiri Perkara, sedangkan sela tidak.
    Putusan sela hanya bersifat membantu memperlancar jalannya persidangan agar sampai pada putusan akhir. Seperti putusan sela untuk memerintahkan salah satu pihak atau kedua-duanya untuk mengucapkan sumpah baik sumpah penentu maupun sumpah tambahan. Sumpah penentu dalam pengadilan Agama adalah seperti sumpah li’an. Sedangkan sumpah tambahan adalah sumpah yang ditujukan untuk melengkapi alat bukti yang ada karena kurang secara formil atau materiil. Secara formil artinya, alat bukti saksi misalnya hanya 1 orang, karena secara formil minimal harus 2 orang, maka bisa ditambah dengan sumpah tambahan. Sedangkan secara materiil artinya, jika alat bukti saksi sudah 2 orang misalnya, akan tetapi ada keterangan penting yang tidak diketahui oleh salah seorang saksi, maka bisa diperintahkan sumpah tambahan.

Demikianlah penjelasan singkat tentang perbedaan putusan sela dengan putusan akhir. Semoga bermanfaat. Saya akan sangat berterima kasih jika para pembaca yang budiman bersedia memberikan komentar atau feed untuk diskusi di kolom komentar di bawah ini. Terima kasih.

One Comment

  1. Apakah jika tergugat dalam eksepsinya sudah mengajukan semua alasan agar gugatan tidak diterima.. tetapi dalam putusan sela hakim menyatakan pengadilan berwenang untuk mengadili perkara. setelah persidangan pokok perkara pada akhirnya hakim memutuskan gugatan tidak diterima atau NO. Pertanyaanya kenapa majelis tidak memutuskan NO dalam putusan sela sehingga persidangan berlarut larut hingga 2 tahun..baru diputus NO? Sehingga persidangan menjadi tidak singkat dan tidak murah?

    Andjar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *