Prosedur Mediasi sesuai Perma no 1 tahun 2016

Mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator. Setiap perkara perdata yang masuk ke Pengadilan dan pada sidang pertama dihadiri oleh pihak Penggugat dan Tergugat atau kuasa hukumnya yang sah, maka wajib menempuh upaya mediasi.

Dalam menjalankan perannya, mediator memiliki peranan penting dalam mencapai kesepakatan damai kedua belah pihak sehingga dapat mengakhiri sengketa tanpa harus melalui jalur litigasi (proses peradilan). Oleh karena itu, agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka seorang mediator harus memahami betul prosedur mediasi agar sesuai aturan yang sudah ditetapkan.

Berikut prosedur mediasi yang harus dijalani oleh kedua belah pihak yang bersengketa yang harus dipahami dengan baik oleh seorang mediator:

A. PRA MEDIASI1)Peraturan Mahakamah Agung RI nomor 1 tahun 2016 tentang mediasi, Bab IV Pasal 17

  1. Pada hari sidang yang telah ditentukan dan dihadiri para pihak, maka hakim pemeriksa perkara mewajibkan para pihak untuk menempuh mediasi.
  2. Hakim pemeriksa perkara wajib menjelaskan prosedur mediasi kepada para pihak meliputi pengertian dan manfaat mediasi, akibat hukum jika tidak beriktikad baik dalam mengikuti mediasi, pembebanan biaya mediasi dan menindaklanjuti hasil mediasi.
  3. Hakim pemeriksa perkara menyerahkan formulir tentang pernyataan para pihak telah menerima penjalasan sebagaimana yang dimaksud pada angka 2 di atas.
  4. Dalam hal para pihak memilih mediator yang telah terdaftar di pengadilan, maka setelah mendapatkan surat penetapan penunjukkan mediator dari Ketua Majelis Hakim yang mengadili perkara – melalui perantara Panitera Pengganti – Mediator menentukan hari dan tanggal pertemuan mediasi pertama.
    Tahapan atau prosedur ini tidak sama seperti pada praktik yang terjadi sebelumnya sebagaimana diatur dalam Perma nomor 1 tahun 2008 tentang mediasi, dimana para pihak dapat langsung melakukan mediasi setelah persidangan, melainkan para pihak langsung pulang dan menunggu surat panggilan mediasi oleh jurusita/jurusita pengganti. Pada tahapan ini, memang terkesan kurang efektif dibandingkan dengan praktik sebelumnya, karena harus melakukan panggilan terlebih dahulu untuk bisa memulai mediasi.
  5. Kemudian Mediator atas kuasa Hakim Pemeriksa Perkara melalui Panitera melakukan pemanggilan para pihak dengan bantuan Jurusita atau Jurusita Pengganti;
  6. Pada hari dan tanggal yang telah ditentukan, Mediator memperkenalkan diri dan jika diperlukan, juga memberikan kesempatan kepada para pihak untuk memperkenalkan diri kepada Mediator;
  7. Selanjutnya Mediator berkewajiban:
    • Menjelaskan maksud, tujuan, dan sifat mediasi;
    • Menjelaskan kedudukan, dan peran mediator yang netral dan tidak mengambil keputusan.
    • Menjelaskan bahwa Mediator dapat mengadakan pertemuan dengan salah satu pihak tanpa kehadiran pihak lainnya (Kaukus).
    • Membuat aturan pelaksanaan Mediasi bersama para Pihak.
    • Menyusun jadwal Mediasi bersama para Pihak.
  8. Jika sudah mencapai kesepakatan dalam menyusun jadwal mediasi, Mediator menulisnya dalam formulir Jadwal Mediasi.

B. TAHAP MEDIASI2)ibid, Bab IV, pasal 24

  1. Memasuki tahap mediasi, langkah pertama yang harus dilakukan oleh Mediator adalah dengan memberikan kesempatan kepada para pihak untuk menyampaikan permasalahan dan usulan perdamaian. Para pihak bisa menyampaikannya secara lisan atau bisa juga secara tertulis dengan menggunakan lembar Resume Perkara. Jika dilakukan secara tertulis, maka Mediator dapat menunda Mediasi guna memberikan waktu kepada para pihak untuk menuangkan permasalahan dan usulan perdamaiannya secara lebih matang;
  2. Pada tahap atau pertemuan berikutnya, masing-masing pihak dipersilahkan untuk menyampaikan salinan permasalahan dan usulan perdamaiannya kepada Mediator dan pihak lawan untuk kemudian dipelajari. Selanjutnya, Mediator menginventarisasi permasalahan dan mengagendakan pembahasan berdasarkan skala prioritas;
  3. Mediator memfasilitasi dan mendorong para Pihak untuk:
    • Menulusuri dan menggali kepentingan para Pihak.
    • Mencari berbagai pilihan penyelesaian yang terbaik bagi para Pihak.
    • bekerja sama mencapai penyelesaian.
      Pada langkah ini, Mediator dapat menggunakan hak Kaukusnya untuk melakukan pendekatan secara emosional agar para pihak dapat lebih menurunkan egonya dengan melihat sisi baik dari tawaran dari pihak lawan;
  4. Jika mencapai kesepakatan, maka Mediator berkewajiban membantu para Pihak dalam membuat dan merumuskan Kesepakatan perdamaian;
  5. Selanjutnya, Mediator menyampaikan laporan hasil mediasinya kepada Hakim Pemeriksa perkara, baik itu berupa laporan keberhasilan jika para pihak berhasil mencapai kesepakatan atau laporan tidak dapat dilaksanakannya Mediasi karena terdapat pihak yang tidak beriktikad baik;

C. TIPS BAGI PARA MEDIATOR

  • Satu hal yang mungkin bisa dilakukan untuk mempersingkat proses mediasi adalah dengan terlebih dahulu memberikan formulir Resume Perkara3)SK KMA nomor 108/KMA/SK/VI/2016, Lampiran I-08 kepada para pihak pada saat sesudah persidangan, sehingga para pihak sudah membawa hasil resume perkara secara tertulis pada saat mediasi pertama. Dengan demikian, pada pertemuan pertama mediasi, disamping menjadwalkan agenda mediasi, para pihak juba bisa langsung memulai tahapan awal mediasi.
  • Dalam menjalankan tugas sebagai Mediator kita harus mampu mengendalikan emosi dan mengkondisikan proses mediasi. Termasuk harus berani memotong penyampaian salah satu pihak atau kedua belah pihak secara bersamaan jika dinilai sudah mengarah kepada penyerangan atau penyalahan pihak lainnya. Jurus yang paling ampuh yang selama ini saya gunakan pada saat proses mediasi tidak kondusif (terjadi perang mulut) adalah dengan menarik kesadaran para pihak agar menghormati atau setidaknya menghargai kita sebagai mediator.
  • Gunakan juga pendekatan secara hukum dengan menjelaskan secara global tentang bagaimana hukum melihat perkara tersebut tanpa mencoba untuk mendahului majelis hakim dalam memutus perkara tersebut, kemudian memaparkan untung dan terlebih ruginya jika perkara dilanjutkan secara litigasi atau melalui persidangan.
  • jika tetap bertahan pada pendapatnya tersebut dengan memanfaatkan fasilitas Kaukus. Kaukus merupakan senjata ampuh para mediator untuk menggali secara lebih dalam kepentingan sebenarnya dari masing-masing pihak. Karena tidak jarang bahwa ada kepentingan utama dibalik perselisihan antara kedua belah pihak yang tidak terungkapkan dalam gugatan maupun dalam ketika kedua-duanya berhadapan langsung di dalam mediasi.

Demikianlah penjelasan singkat tentang prosedur mediasi terbaru sesuai dengan perma nomor 1 tahun 2016 tentang mediasi. Semoga membantu dan jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silahkan share atau meninggalkan komentar di bawah ini sebagai bahan diskusi. Terima kasih.

References   [ + ]

1. Peraturan Mahakamah Agung RI nomor 1 tahun 2016 tentang mediasi, Bab IV Pasal 17
2. ibid, Bab IV, pasal 24
3. SK KMA nomor 108/KMA/SK/VI/2016, Lampiran I-08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *